Rabu, 22 Februari 2012

Ilmu Unggas


                   SISTEM DIGESTI DAN REPRODUKSI

WAKTU PELAKSANAAN
            Pelaksanaan praktikum Ilmu Ternak Unggas  acara sistem digesti dan reproduksi ayam dilakukan pada hari Jumat, 17 November 2011, pukul 13.00 WIB sampai 16.00 WIB.

TEMPAT PELAKSANAAN
            Praktikum dilakukan di Laboratorium Ilmu Ternak Unggas Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

TUJUAN DAN MANFAAT PRAKTIKUM
            Tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui dan memahami tentang sistem digesti dan reproduksi ayam, meliputi fungsi, ukuran berat, dan batasan-batasan dari masing-masing bagiannya.



MATERI DAN METODE

Materi
            Alat. Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah pisau scapel merk Tagimaco, pita ukur merk Butterfly dengan panjang 150 cm, timbangan digital merk Camry dengan kapasitas 2 kg, dan gunting bedah merk JMC.
            Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah 1 ekor ayam layer afkir yang telah disembelih tapi masih utuh berumur lebih dari 72 minggu dan 1 ekor bebek jantan.



Metode
            Ayam yang telah dipotong kemudian ditimbang lalu dibedah dan dikeluarkan seluruh organ pencernaan dan organ reproduksinya (jangan sampai putus), kemudian diletakkan diatas alas plastik yang diatur secara utuh dan digambar. Setelah itu diukur panjang per bagian organ kemudian potong perbagian, keluarkan kotorannya, kemudian dicuci lalu ditimbang, dan dicatat berat masing-masing organ begitu juga dengan bebek jantan namun pada bebek jantan tidak diamati sedemikian detal separti pada ayam.



HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
            Hasil yang diperoleh dari praktikum Ilmu Ternak unggas acara sistem digesti dan reproduksi adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Organ digesti ayam layer
Parameter
Ayam A (Kelompok 17)
Ayam B (Kelompok 16)
Panjang     (cm)
Berat (g)
Panjang (cm)
Berat (g)
Oesophagus
18,5
24
9
4
Crop
-
14
-
  11
Proventikulus
5
8
6
  6
Gizzard
-
40
-
26
Usus halus:
114
38


Duodenum
24
10
24
7
Jejunum
22,5
7
54
11
Ilieum
8,5
21
49
9
Coecum
15
7
17
4
Usus besar
12
5
7
3
Kloaka
-
12

11

Tabel 2. Organ digesti tambahan ayam layer
Parameter
Ayam A (Kelompok 17)
Ayam B (Kelompok 16)
Panjang (cm)
Berat (g)
Panjang (cm)
Berat (g)
Hati
-
28
-
40
Pankreas
-
2
-
4
Limfa
-
3
-
3




Tabel 3. Sistem reproduksi ayam betina
Parameter
Ayam A (Kelompok 17)
Ayam B (Kelompok 16)
Panjang (cm)
Berat (g)
Panjang (cm)
Berat (g)
Ovarium+ovum
-
54
-
11
Infundibulum
9
1
6
1
Magnum
34
30
27
7
Isthmus
12,5
5
10
2
Uterus
10
20
9
13
Vagina
5,3
2
7
5


Pembahasan

Sistem Digesti
            Sistem digesti ayam terdiri atas organ-organ yang menyusun digesti dan memiliki fungsi yang khusus. Organ yang menyusun sistem digesti dari pakan masuk sampai keluar sebagai ekskreta antara lain paruh, oesophagus, crop, proventriculus, gizzard, usus halus yang terdiri atas duodenum, jejunum, dan ileum, coecum, usus besar, dan kloaka.
            Mulut. Mulut merupakan tempat saat makanan pertama kali masuk. Menurut Akoso (1998), mulut ayam tidak memiliki bibir dan gigi. Peranan bibir dan gigi pada ayam digantikan oleh rahang yang menanduk dan membentuk paruh. Menurut Tri-Yuwanta (2004), mulut menghasilkan saliva yang mengandung amylase dan maltase saliva dan produksi saliva 7 sampai 30 ml/ hari tergantung pada jenis pakan.
Gambar 1. Mulut ayam

            Oesophagus. Menurut Tri-Yuwanta (2004), oesophagus merupakan saluran lunak dan elastis yang mudah mengalami pemekaran apabila ada bolus yang masuk. Panjang oesophagus ayam A adalah 19 cm sedangkan ayam B 18 cm. Berat oesophagus ayam A adalah 3 gram sedangkan ayam B 17 gram. Menurut Neil (1991), panjang oesophagus antara 20 sampai 25 cm dan berat antara 5 sampai 7,5 gram. Panjang oesophagus kedua ayam sudah mendekati ukuran normal. Perbedaan yang relatif kecil ini dikarenakan oesophagus didalam kepala tidak ikut diukur karena masuk pada kepala sehingga tidak dapat dikeluarkan. Berat oesophagus ayam A relatif lebih sedikit, ini berkaitan dengan data panjang oesophagus yang tidak terukur karena berada didalam kepala sedangkan berat oesophagus ayam B terpaut sangant jauh, hal ini dikarenakan sisa pakan didalam oesophagus tidak dikeluarkan saat pengukuran berat oesophagus.

Gambar 2. Oesophagus

            Tembolok (crop). Tembolok disebut juga crop merupakan modifikasi dari oesophagus. Fungsi tembolok adalah untuk menyimpan pakan untuk sementara waktu dan sebagai indikator untuk ayam jika pakan yang dikonsumsi sudah cukup (Tri-Yuwanta, 2004). Tembolok ayam A maupun ayam B memiliki berat yang sama yaitu 6 gram. Menurut Neil (1991), berat crop adalah 8 sampai 12 g. Perbedaan data yang relatif kecil mungkin akibat dari perbedaan morfologi spesies ayam yang diamati dan tidak dapat digunakan sebagai indikator ayam memiliki cacat tubuh. Menurut Tri-Yuwanta (2004), tembolok mampu menampung 250 g pakan. Akoso (1998) menambahkan bahwa pakan berupa serat kasar dan biji-bijian tinggal didalam tembolok selama beberapa jam untuk proses pelunakan dan pengasaman.
Gambar 3. Tembolok

            Proventriculus. Proventriculus disebut juga perut kelenjar atau succenturiate ventricle atau glandular stomach yang mengekskresikan pepsinogen dan HCl untuk mencerna protein dan lemak (Tri-Yuwanta, 2004). Proventriculus ayam A dan B memiliki panjang dan berat yang sama yaitu panjang 5 cm dan berat 6 gram. Neil (1991) mengatakan proventriculus memiliki panjang 6 cm dengan berat 7,5 sampai 10 gram. Perbedaan data diatas tidak terlalu signifkan sehingga tidak dapat dijadikan indikasi bahwa kedua ayam abnormal. Perbedaan tersebut dapat terjadi karena kesalahan pengukuran atau kemungkinan lain yaitu perbedaan spesies dan varietas ayam sehingga  terjadi perbedaan morfologi.

Gambar 4. Proventrikulus

            Gizzard. Menurut Tri-Yuwanta (2004), gizzard merupakan perut muscular yang merupakan kepanjangan dari proventriculus, gizzard terjadi pencernaan mekanis. Otot-otot gizzard melumat pakan sehingga lebih lunak dengan bantuan grit dan air. Gizzard dilindungi oleh lapisan koilin sehingga tidak luka oleh grit. Gizzard ayam A memiliki berat 31 gram sedangkan ayam B 25 gram. Data ini sesuai dengan data Goodman (1991) yang menyatakan berat gizzard adalah 25 sampai 30 gram. Menurut Tri-Yuwanta (2004), pada unggas yang hidup secara berkeliaran, empedal lebih kuat daripada ayam yang dipelihara secara terkurung dengan pakan yang lebih lunak.
Gambar 5. Gizzard

            Usus halus. Usus halus disebut juga intestinum tenue, panjang mencapai 120 cm (Tri-Yuwanta, 2004). Usus halus mulai terjadi pencernaan enzimatis serta penyerapan nutrisi pakan. Usus halus terbagi menjadi tiga bagian yaitu duodenum, jejunum, dan ileum.

Gambar 6. Usus Halus

            Duodenum. Duodenum terdapat di bagian awal usus halus, yakni berbentuk seperti huruf U dengan kelenjar pankreas di tengahnya. Menurut Tri-Yuwanta (2004), pada bagian ini terjadi pencernaan yang paling aktif dengan proses hidrolisis dari nutrien kasar berupa pati, lemak, dan protein. Panjang dan berat duodenum ayam A dan B berturut-turut adalah 34 cm, 7 gram, dan 26 cm, 6 gram. Perbatasan duodenum dengan jejunum terletak pada tikungan kedua usus halus kedua usus halus.
            Jejunum. Jejunum merupakan kelanjutan dari duodenum yakni terjadi pencernaan namun dengan frekuensi absorpsi yang masih kecil. Panjang dan berat jejunum ayam A dan B berturut-turut adalah 59 cm, 11 gram dan 68 cm, 13 gram.
            Ileum. Ileum merupakan bagian usus halus yang paling banyak melakukan absorpsi. Ileum mempunyai banyak vili-vili untuk memperluas bidang penyerapan. Batas antara jejunum dengan ileum berupa tonjolan kecil yakni micelle diverticum. Panjang dan berat ileum pada ayam A dan B berturut-turut adalah 54 cm, 13 gram dan 59 cm, 14 gram. Menurut Zuprizal (2005), berat ileum adalah 15 gram. Hasil pengamatan mempunyai selisih yang kecil dengan kisaran normal. Hal ini menandakan bahwa ayam A dan B berada pada kisaran normal.
            Coecum. Coecum terdiri atas dua coeca atau saluran buntu yang berukuran panjang 20 cm (Tri-Yuwanta, 2004). Panjang coeca ayam A dan B berturut-turut adalah 11,5 cm dan 28 cm. Ayam A memiliki memiliki ukuran coecum yang terlalu pendek, sedangkan ayam B terlalu panjang. Hal ini dapat disebabkan oleh perbedaan individu serta pakan yang dikonsumsi. Semakin tinggi pakan mengandung serat kasar tinggi, maka coeca akan berkembang karena coeca berfungsi untuk mencerna serat kasar. Ayam hanya dapat memanfaatkan serat kasar sebanyak 2 sampai 3%, sedangkan itik dapat hingga 5%.

Gambar 7. Coecum

Usus besar. Usus besar atau intestinum crasum mempunyai panjang 7 cm (Tri-Yuwanta, 2004). Panjang usus besar ayam A dan B adalah 9,5 cm dan 12 cm. Menurut Akoso (1998), berat normal rektum adalah 4 sampai 6 gram. Berat usus besar ayam A dan B adalah 2 gram dan 7 gram. Hal ini berarti kedua ayam tersebut berada di luar kisaran normal. Perombakan partikel pakan yang tidak tercerna oleh mikroorganisme menjadi feses terjadi pada bagian usus besar (Tri-Yuwanta, 2004).
Gambar 8. Usus Besar

            Kloaka. Kloaka merupakan tempat keluarnya ekskreta karena urodeum dan kuprodeum berhimpitan (Tri-Yuwanta, 2004). Berat kloaka ayam A dan B adalah 12 dan 2 gram. Menurut Neil (1991), berat kloaka adalah antara 6 sampai 8 gram. Perbedaan data yang mencolok dapat disebabkan oleh kesalahan pengukuran atau ayam dalam kondisi abnormal.

Gambar 9. Kloaka

Organ Tambahan
Hati. Hati dalam proses pencernaan berfungsi untuk mensekresikan getah empedu yang dibawa ke dalam empedu. Fungsi dari getah empedu sebagai penetral asam lambaung (HCl), membentuk sabun terlarut dengan lemak bebas. Kedua fungsi ini membantu dalam absorbsi dan translokasi asam lemak (Tri-Yuwanta, 2004).
Berat hati ayam A dan B berturut-turut adalah 32 gram dan 35 gram, sedangkan berat ayam A dan B adalah 1399 gram dan 1470 gram. Menurut Tri-Yuwanta (2004), berat hati adalah 3% dari berat badan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa berat hati tidak berada pada kisaran normal karena kurang dari 3% berat badan. Hal ini dapat terjadi karena pada saat penimbangan berat badan ayam, pakan yang baru dikonsumsi juga ikut ditimbang sehingga terukur lebih besar.

Gambar 10. Hati

Pankreas. Duodenum merupakan tempat menempelnya kantong empedu dan kelenjar pankreas. Kantong empedu merupakan tempat menyimpan cairan empedu dari hati, sedangkan kelenjar pankreas mensekresikan enzim-enzim pancreas ke duodenum (Frandson, 1992). Berat pankreas ayam A dan B adalah 4 dan 2 gram.
pankreas







Gambar 11. Pankreas

Limfa. Limfa berada di sebelah kiri dan kanan duodenum, sedikit di atas empedu dan berwarna kemerah-merahan. Bentuk limfa yaitu bulat dan tersusun oleh lapisan jaringan keputihan. Fungsi dari limfa adalah untuk pembentukan sel darah merah dan sel darah putih (Frandson, 1992). Berat dari limfa ayam A dan B adalah 1 gram dan 5 gram. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh perbedaan morfologi ayam.


limpa 




Gambar 12. Limfa

Sistem Reproduksi Ayam Betina
Sistem reproduksi ayam betina terdiri atas dua bagian utama, yakni ovarium dan oviduk. Ovarium terbagi dua bagian yaitu cortex pada bagian luar dan medula pada bagian ligamentum messo ovariium. Proses pembentukan ovum dinamakan vilogeni yang merupakan sintesa asam lemak di hati yang dikontrol oleh hormon estrogen, kemudian oleh darah diakumulasikan di ovarium sebagai ovum (Tri-Yuwanta, 2004).
Ovarium dan ovum. Menurut Sidadolog (1991), berat ovarium unggas dewasa adalah antara 40 sampai 60 gram. Hasil pengamatan ovarium A dan B adalah lebih kecil yakni 24 dan 32 gram. Perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh umur folikel yang masih muda atau baru saja terjadi ovulasi sehingga beratnya menurun. Folikel sudah berada di ovarium sejak induk masih dalam bentuk embrio.
Pada unggas, sperma ditransfer oleh kawin alam ke ujung distal vagina menuju persimpangan uterovaginal (UVJ) pada akhir anterior vagina. Namun, karena proses seleksi yang ketat dalam vagina, kurang dari 1% dari sperma yang ditransfer benar-benar mencapai UVJ tersebut. Mereka sperma yang mencapai UVJ masukkan pelagica tubular berbagai epitel permukaan vagina terletak di mukosa UVJ, secara kolektif disebut sebagai penyimpanan sperma tubulus (SST). Sperma yang berada dalam lumen SST mampu bertahan hingga beberapa minggu sementara tetap mempertahankan kapasitas mereka pemupukan (Denver, 2010).

Gambar 13. Ovarium dan Ovum

Infundibulum. Infundibulum berfungsi untuk menangkap ovum yang diovulasikan dan merupakan tempat terjadinya fertilisasi. Folikel melewati infundibulum selama 15-30 menit. Menurut Tri-Yuwanta (2004), panjang infundibulum adalah 9 cm. Hasil pengamatan menunjukkan panjang serta berat infundibulum ayam A dan B adalah 13 cm 1 gram dan 4 cm 5 gram. Perbedaan tersebut dapat terjadi karena perbedaan morfologi ayam.
Gambar 14. Infundibulum

Magnum. Magnum merupakan bagian terpanjang dari oviduk yang merupakan tempat terjadinya sintesis albumen kental dan cair. Proses sintesis albumen di magnum berlangsung selama 3 jam. Menurut Tri-Yuwanta (2004), panjang magnum adalah 33 cm. Hasil pengamatan panjang dan berat magnum ayam A dan B  adalah 28,5 cm 27 gram dan 17 cm 35 gram. Perbedaan tersebut dapat terjadi karena perbedaan morfologi ayam.

Gambar 15. Magnum

Isthmus. Isthmus berfungsi untuk mensekresikan telur beserta kerabang tipis. Proses pembentukan kerabang tipis ini berlangsung selama ,1,5-2 jam. Isthmus ayam A dan B memiliki panjang 10 dan 11 cm. Menurut Tri-Yuwanta (2004), isthmus memiliki panjang sekitar 10 cm. Hal ini berarti panjang isthmus kedua ayam masih sesuai dengan kisaran normal. 
Gambar 16. Isthmus

Uterus. Uterus berfungsi untuk pembentukan kerabang telur sehingga prosesnya paling lama yakni 21 jam. Menurut Tri-Yuwanta (2004), panjang uterus adalah sekitar 10 cm. Hasil pengamatan panjang uterus ayam A dan B adalah 10,5 cm dan 5 cm. Uterus ayam B berukuran sangat pendek dan berada di bawah kisaran normal. Hal ini dapat disebabkan oleh pengkerutan uterus karena terjadi kontraksi.
Gambar 17. Uterus
Vagina. Vagina merupakan tempat keluar telur hasil pembentukan telur oleh organ reproduksi. Telur sangat singkat melewati vagina yaitu hanya 5 menit. Panjang vagina adalah sekitar 10 cm (Tri-Yuwanta, 2004). Hasil pengamatan terhadap ayam A dan B adalah 2 dan 3 cm. Hal ini berarti panjang vagina kedua ayam berada di bawah kisaran normal.
Gambar 18. Vagina

Kloaka. Kloaka merupakan tempat sisa-sisa metabolism dikeluarkan dalam bentuk eksreta. Eksreta merupakan campuran antara urin dan feses yang keluar secara bersama-sama. Kloaka terdiri dari 3 bagian, yaitu kuprodeum atau saluran keluarnya feses, urodeum atau saluran keluarnya urin dan protodeum atau saluran keluarnya sperma atau sel telur (Frandson, 1992).
Gambar 19. Kloaka

Sistem Reproduksi Jantan
Organ reproduksi ayam jantan terdiri dari testes, ductus deferens, dan organ kopulasi yang terdapat dalam kloaka. Unggas jantan berbeda dari ternak piaraan lainnya karena testes tidak terdapat dalam skrotum tetapi tetap berada dalam rongga badan dan terletak didekat tulang belakang dekat bagian anterior (Blakely and Bade,1991).
Testis. Testis ayam jantan terletak di rongga badan dekat tulang belakang, melekat pada bagian dorsal dari rongga abdomen dan dibatasi oleh ligamentum mesorchium, berdekatan dengan aorta dan vena cavar, atau di belakang paru-paru bagian depan dari ginjal. Meskipun dekat dengan rongga udara, temperatur testis selalu 41o sampai 43o C karena spermatogenesis (pembentukan sperma) akan terjadi pada temperatur tersebut (Anonim, 2007).
Testis ayam berbentuk biji buah buncis dengan warna putih krem. Testis terbungkus oleh dua lapisan tipis transparan, lapisan albugin yang lunak. Bagian dalam dari testis terdiri atas tubuli seminiferi (85% sampai 95% dari volume testis), yang merupakan tempat terjadinya spermatogenesis, dan jaringan intertitial yang terdiri atas sel glanduler (sel Leydig) tempat disekresikannya hormon steroid, androgen, dan testosteron. Besarnya testis tergantung pada umur, strain, musim, dan pakan (Anonim, 2007).
Hasil praktikum pada alat reprodiksi ayam jantan diperoleh testis berwarna putih kekuningan dan berbentuk seperti biji kacang kedelai.
Saluran Deferens. Saluran deferens dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian atas yang merupakan muara sperma dari testis, serta bagian bawah yang merupakan perpanjangan dari saluran epididimis dan dinamakan saluran deferens. Saluran deferens ini akhirnya bermuara di kloaka pada daerah proktodeum yang berseberangan dengan urodium dan koprodeum. Di dalam saluran deferens, sperma mengalami pemasakan dan penyimpanan sebelum diejakulasikan. Pemasakan dan penyimpanan sperma terjadi pada 65% bagian distal saluran deferens (Anonim, 2007).
Alat Kopulasi. Alat kopulasi pada ayam berupa papila (penis) yang mengalami rudimenter, kecuali pada itik berbentuk spiral yang panjangnya 12 sampai 18 cm. Pada papila ini juga diproduksi cairan transparan yang bercampur dengan sperma saat terjadinya kopulasi (Anonim, 2007).

Gambar 20. Saluran reproduksi ayam jantan

Mekanisme Spermatogenesis
Spermatogenesis adalah proses pembentukan sel sperma yang terjadi di epitelium (tubuli) seminiferi di bawah kontrol hormon gonadotropin dan hipofisis (pituitaria bagian depan). Tubuli seminiferi ini terdiri atas sel sertoli dan sel germinalis. Spermatogenesis terjadi dalam tiga fase, yaitu fase spermatogineal, fase meiosis, dan fase spermiogenesis yang membutuhkan waktu 13 sampai 14 hari (Anonim, 2007).
Sistem Reproduksi Unggas Jantan (ITIK)
Organ reproduksi itik jantan terdiri dari testes, ductus deferens, dan organ kopulasi yang terdapat dalam kloaka. Unggas jantan berbeda dari ternak piaraan lainnya karena testes tidak terdapat dalam skrotum tetapi tetap berada dalam rongga badan dan terletak didekat tulang belakang dekat bagian anterior (Blakely and Bade,1991).

Testis
            Testis terletak di rongga badan dekat dengan tulang belakang  dan melekat pada bagian dorsal dari rongga abdomen dan dibatasi oleh ligamentum mes;hium yang berdekatan dengan aorta dan vena cava atau di belakang paru-paru bagian depan dari ginjal. Besar testis tergantung dari umur, strain, dan musim (Yuwanta, 2004).
Testis yang berisi sel sertoli lebih banyak  berat ukurannya  akan lebih dibandingkan dengan testis yang berisi sedikit sel sertoli. Meskipun hubungan antara jumlah sel sertoli dengan berat testis sangat signifikan, perbedaan dalam jumlah sel sertoli bisa dihitung hanya 30,2% dari variasi dalam bentuk testis. faktor-faktor lain yang mempengaruhi yaitu jumlah sel, usia, pengaruh lingkungan dan berat badan (Coulter et al, 1975).
Hasil praktikum pada alat reprodiksi bebek jantan diperoleh testis berwarna putih kekuningan dan berbentuk seperti biji kacang kedelai.


Saluran vasdeferens
            Saluran ini dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian atas merupakan muara perpanjangan dari saluran epididimis dinamkan saluran vasdeferens yang akhirnya bermuara di kloaka pada daerah proktodeum yang bersebelahan dengan urodeum dan keprodeum. Didalam saluran vasdeferns, sperma mengalami pemasakan dan penyimpanan sebelum di ejakulasikan. Pemasakan dan penyimpanan sperma terjado pada 65% bagian distal saluran vasdeferens (Yuwanta, 2004).

Alat kopulasi
                           Alat kopulasi pada ayam berupa papilla (penis) yang mengalami rudimenter, kecuali pada itik berbentuk spiral dengan panjang 12 sampai 18 cm. Papilla juga berfungsi memproduksi cairan transparan yang bercampur dengan sperma saat terjadinya kopulasi (Yuwanta, 2004).




KESIMPULAN

            Pengamatan dan pengukuran praktikum digesti pada ayam A dan B relatif menunjukkan kisaran normal. Organ digesti yang tidak berada pada kisaran normal dipengaruhi oleh jenis dan bangsa ayam, umur, jenis kelamin, jenis pakan yang biasa dikonsumsi. Unggas jantan berbeda dengan ternak lainnya karena testes tidak terdapat dalam skrotum tetapi berada dalam rongga badan dan terletak didekat tulang belakang dekat bagian anterior. Sistem reproduksi ayam betina terdiri dari ovarium dan oviduct.  Oviduct terdiri dari infundibulum, magnum, isthmus, uterus dan vagina. Sistem reproduksi pada ayam jantan dibagi tiga bagian utama yaitu sepasang ductus deferens, dan organ kopulasi yang bersifat rudimenter yang terdapat pada kloaka.





DAFTAR PUSTAKA

Akoso, B. T. 1998. Kesehatan Unggas. Kanisius. Yogyakarta.
Anonim. 2007. Sistem-reproduksi-ayam jantan. Chickaholic wordpress.com. Di akses 31 Maret 2011 pukul 10.00.
Blakely, J and Bade, D.H. 1991. Ilmu Peternakan, Edisi IV, Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Goodmann, H. D. 1991. Biology Laboratory Inversatium Java. Novich Put Orlando.
Sidadolog J.P.H. 2001. Manajemen Ternak Unggas. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.
Neil, A. C. 1991. Biology 2nd edition. The Benjamin Coming Publishing Company Inc. Pec Wood City.
Tri-Yuwanta. 2004. Dasar Ternak Unggas. Kanisius. Yogyakarta.
Zuprizal dan Kamal. M. 2005. Nutrisi Pakan Unggas. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.
Denver,2010. FISIOLOGI DAN ENDOKRINOLOGI SIMPOSIUM: Peran saluran telur dalam memelihara kesuburan berkelanjutan dalam ayam. jas.fass.org

1 komentar:

  1. Casinos Near Casinos in Las Vegas, NV - Mapyro
    MapYRO - 나주 출장샵 Casinos in Las Vegas, NV. 군포 출장안마 Hotels 시흥 출장샵 with Casinos and Hotels in Las Vegas, NV. Find the 목포 출장안마 best casinos and hotels in 나주 출장안마 Las Vegas, NV.

    BalasHapus