Rabu, 22 Februari 2012

Bahan Pakan dan Formulasi Pakan


BAB I
PENDAHULUAN

Bahan pakan merupakan suatu bahan yang dapat dimakan, disukai, dan dapat dicerna sebagian atau seluruhnya, dapat diabsorbsi, bermanfaat bagi ternak dan tidak mengganggu kesehatan ternak tersebut. Meningkatnya jumlah penduduk Indonesia, menuntut tercukupinya kebutuhan akan pangan sehingga menyebabkan sebagian lahan yang digunakan untuk hijauan makanan ternak dimanfaatkan untuk budidaya tanaman pangan dan pemukiman penduduk. Berkurangnya lahan hijauan dan pakan ternak berakibat pada menurunnya kualitas, kuantitas dan kontinyuitas pakan hijauan yang dibutuhkan ternak.
Pakan dapat didefinisikan sebagai pakan bagi hewan herbivora, biasanya dengan konsentrat seperti biji-bijian yang memiliki kecernaan yang tinggi. Tumbuh-tumbuhan pakan biasanya terdapat di tempat liar, tetapi biasanya lebih banyak dijumpai di padang-padang rumput, di perkebunan dengan tanaman keras atau di tempat-tempat terbuka, di dalam dan di dekat hutan dan sepanjang jalanan, pematang sawah dan saluran-saluran air. Pada waktu musim penghujan ketersediaannya sangat melimpah sedang pada musim kemarau terjadi kekurangan. Hal itu tentu saja akan berpengaruh terhadap produksi ternak.


Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui fraksi-fraksi yang terkandung di dalam sebuah bahan pakan yaitu dengan menggunakan analisis proksimat. Fraksi-fraksi yang diperoleh yaitu kadar air, abu, protein kasar, lemak kasar, serat kasar dan kadar ETN. Setelah diketahui fraksi-fraksi di dalamnya, maka dapat ditentukan pula kelas dari bahan pakan tersebut. Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum dilaksanakan supaya praktikan mengenal berbagai macam bahan pakan yang mendukung keberhasilan suatu usaha peternakan.
Zat yang ada di dalam pakan terdiri atas zat-zat kimia yang bertujuan untuk mendukung kehidupan suatu organisme disebut nutrien. Nutrien inilah yang diperlukan oleh ternak sehingga sesuai dengan umur, ukuran, jenis dan tingkat produktivitas suatu ternak sehingga terpenuhi kebutuhan akan nutrien. Di samping konsentrat, ternak juga memerlukan pakan berupa hijauan. Hijauan adalah bagian dari tanaman rumput atau legum yang mengandung 18% serat kasar dalam bahan kering yang digunakan sebagai bahan makanan ternak. Istilah ini biasanya digunakan bagi bahan yang berasal dari tanaman sebagai hijauan pandangan, hay silase, dan bahan makanan hijauan yang dicacah.























BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


Bahan Pakan
Pakan adalah  segala sesuatu yang dapat dimakan oleh ternak dalam bentuk dapat dicerna sebagian atau seluruhnya dengan tidak mengganggu kesehatan pemakannya (Lubis, 1992). Pakan ternak ruminansia pada dasarnya terdapat dua golongan yaitu hijauan dan konsentrat. Hijauan adalah pakan yang mengandung serat kasar tinggi sedang konsentrat mempunyai kadar serat yang lebih rendah namun mudah dicerna, mengandung protein yang tinggi sehingga nilai gizinya lebih tinggi dibandingkan dengan hijauan (Tillman et al., 1998).
Hijauan.
Makanan hijauan atau hijau-hijauan adalah bahan makanan dalam bentuk daun-daunan kadang masih bercampur dengan batang, ranting, serta kembang-kembangnya, umumnya berasal dari tanaman sebangsa rumput yang diberikan kepada ternak dalam keadaan masih segar, warna masih hijau dan masih banyak mengandung air yaitu rata-rata 70-80 % air, sisanya yang 20-30 % adalah bahan kering (Anonim, 1999),. Hijauan itu ialah semua bahan makanan yang berasal dari tanaman dalam bentuk daun-daunan. Termasuk kelompok makanan hijauan ini ialah bangsa rumput (graminea), leguminosa, dan hijauan dari tumbuh-tumbuhan lain seperti daun nangka, aur, daun waru, dan lain sebagainya (Hartadi et al.,1997)
Kelompok makanan hijauan ini biasanya disebut makanan kasar. Hijauan sebagai bahan makanan ternak bisa diberikan dalam dua macam bentuk yaitu hijauan segar dan kering. Hijauan segar ialah makanan yang berasal dari hijauan yang diberikan dalam bentuk segar, termasuk hijauan segar ialah rumput segar, leguminosa segar, dan silase. Hijauan kering ialah makanan yang berasal dari hijauan yang sengaja dikeringkan (hay) ataupun jerami kering (Aak, 1990). Hartadi et al. (1997) mengemukakan bahwa hijauan adalah bagian dari tanaman rumput dan legum yang mengandung 18% serat kasar dalam bahan kering yang digunakan sebagai bahan pakan ternak.
Gliricidia maculata. Legum mengandung NDF (Neutral Detergent Fiber) yang lebih rendah dibanding dengan rumput pada umur yang sama, tetapi kandungan NDF legum maupun rumput akan meningkat dengan meningkatnya umur (Rayburn, 1998). Berdasarkan komposisi tersebut, maka daun Gliricidia maculata  merupakan sumber protein yang sangat berharga sebagai pakan dan digunakan sebagai suplemen hijauan yang berkualitas rendah (Tangendjaja, 1991).
Menurut Anonim (1999), tanaman Gliricida maculata merupakan sumber hijauan makanan ternak yang banyak terdapat di pedesaan dan dapat digunakan untuk menghemat biaya pakan. Tanaman ini belum banyak dimanfaatkan untuk pakan ternak sebagai sumber protein. Dibandingkan dengan hijauan kaliandra dan lamtoro, pemberian hijauan Gliricidia maculata  pada ternak sangat dianjurkan karena mudah dicerna, disukai oleh ternak, dan menambah berat badan. Daun Gliricidia maculata  mengandung protein yang cukup tinggi dan tidak membahayakan bila diberikan dalam jumlah banyak dan secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama.
Tabel 1. Komposisi kimia Gliricidia maculata
Komposisi
Kandungan
Kadar Air
Kadar Abu
Kadar Serat Kasar
Kadar Protein
Kadar Ekstrat Ether
7,42%
8,64%
12,45%
24,38%
1,75%
(Sumber : Akoso, 1996)
Konsentrat. Konsentrat adalah bahan pakan rendah serat kasar dan tinggi kandungan nutrien yang lain, dapat dinyatakan pula bahwa bahan pakan konsentrat adalah setiap bahan pakan yang kandungan serat kasarnya kurang dari 18% dan TDN nya di atas 60% berdasarkan bahan kering. Berdasarkan macam nutrien yang terkandung di dalamnya, mata konsentrat dapat dibagi dalam dua macam, yaitu yang pertama ialah konsentrat sumber energi. Menurut Kamal (1998), konsentrat sumber energi merupakan pakan kelas 4, yang meliputi bahan pakan yang mengandung protein kasar kurang dari 20% dan serat kasar <18% atau dinding sel <35% dalam bahan kering, contohnya : berbagai butir-butiran sebangsa padi, berbagai dedak, berbagai buah, berbagai umbi, minyak tanaman, dan lemak hewan.
Menurut Kamal (1998), konsentrat sumber protein masuk dalam bahan pakan kelas C. Bahan pakan kelas C ini meliputi berbagai bahan pakan yang mengandung protein kasar lebih dari 20% dalam bahan kering. Kelas 5 ini ada yang berasal dari hewan dan ada yang dari tanaman. Contoh : tepung ikan, tepung daging, berbagai biji-bijian sebangsa kacang-kacangan dan bungkilnya.
Bungkil Kedelai. Bungkil kedelai merupakan hasil ikutan pembuatan minyak kedelai. Bungkil kedelai sebagai bahan pakan sumber protein asal tumbuhan belum dapat digantikan oleh bahan sejenis lainnya. Kandungan protein bungkil kedelai berkisar antara 44% - 51%. Beragamnya kualitas bungkil kedelai selain disebabkan oleh perbedaan kualitas kedelai, juga disebabkan oleh macam proses pengambilan minyak. Bungkil kedelai merupakan bahan pakan sumber dwiguna, sebagai sumber protein dan energi. Lemak kasar yang terkandung dalam bungkil kedelai adalah sebesar 5,2% dan serat kasarnya sebesar 7% (Agus, 2007).
Bungkil kacang kedelai mengandung protein antara 42% hingga 50%. Suatu jumlah yang cukup tinggi, tetapi bungkil kacang kedelai tidak mengandung asam amino yang imbang, metionin sebagai pembatas. Walaupun begitu, mecionin sebagai pembatas keseimbangan asam amino pada bungkil kacang kedelai itu tidak menjadi persoalan, sebab bungkil kedelai ini bukanlah sumber protein utama, di Indonesia bungkil kacang kedelai digunakan sebagai pendamping tepung ikan (Rasyaf, 1990).
Penggunaan bungkil kedelai dalam pakan bisa jadi mencapai 25% untuk unggas atau ikan, tapi kedudukan bungkil kedelai dalam pakan dapat diganti dengan sumber protein lain (Ampas kecap 5%, bungkil kapuk 2,5%, dan ampas tahu 10,2%). (Alamsyah, 2005).
Tabel 2.  Komposisi kimia bungkil kedelai adalah :
Komposisi
Kandungan
Kadar Air
Kadar Abu
Kadar Serat kasar
Kadar Ekstrat Ether
Kadar protein Kasar
ETN
14%
6,7 %
5,1 %
1,3 %
51,8%
35,3 %
 (Sumber : Hartadi et al 1991)
Pollard. Pollard merupakan hasil ikutan dari pembuaian gandum. Pollard merupakan salah satu konsentrat sebagai sumber karbohidrat untuk unggas. Pollard sangat disukai ternak baik unggas (ayam) atau ikan, dan juga merupakan salah satu bahan pakan dengan kandungan protein yang relatif cukup tinggi yaitu sekitar 13,66%. Sifat fisik dan kimia dari pollard ini setara dengan sifat fisik dan kimia dedak padi, oleh karena itu pollard dapat menggantikan posisi dan fungsi dedak padi, oleh karena itu pollard dapat menggantikan posisi dan fungsi dedak padi. Pemakaian maksimum pollard dalam pakan ayam atau ikan bisa mencapai 20% (Alamsyah, 2005).
Penggunaan pollard di dalam ransum sering dibatasi karena mempunyai bobot ringan per unit volume (bulky), namun demikian cukup palacabel bagi semua jenis ternak. Di samping sebagai sumber energi pollard juga sebagai sumber vitamin larut air kecuali nasi (Kamal, 1998).



Analisis Proksimat
Analisis proksimat merupakan dasar analisis kimia dari pakan, jaringan tubuh, feses ataupun ekskretel yang diantaranya berguna untuk menentukan estimasi nilai kecernaan dan manfaat pakan, juga untuk menentukan kadar standar.
Analisis proksimat dikembangkan dari Weende Experiment Station Jerman oleh Henneberg dan Stokman pada tahun 1865, yaitu metode analisis yang menggolongkan komponen yang ada pada makanan. Analisis ini didasarkan atas komposisi susunan kimia dan kegunaannya (Tillman et al., 1998), yang kemudian disebut sistem analisis proksimat karena nilai yang diperoleh hanya mendekati nilai komposisi yang sebenarnya. Sistem analisis proksimat dapat untuk mengetahui 6 macam fraksi, yaitu 1) air, 2) abu, 3) protein kasar, 4) lemak kasar, 5) serat kasar, 6) ekstrak tanpa nitrogen. Khusus untuk ekstrak tanpa nitrogen nilainya dapat dicari hanya berdasarkan perhitungan 100% - jumlah dari kelima fraksi yang lain. Analisis proksimat merupakan dasar analisis kimia yang dikerjakan setiap hari dari pakan, jaringan tubuh atau ekskreta yang diantaranya berguna untuk menentukan estimasi nilai kecernaan dan manfaat pakan, guna untuk menentukan pakan untuk semua jenis ternak (Kamal, 1999).
Air.
 Air merupakan unsur nutrisi terpenting dan mutlak dibutuhkan oleh makhluk hidup. Lebih dari 50% berat badan ternak adalah air. Unsur air mengisi sel-sel tubuh dengan konsentrasi antara 70% - 90%. Air yang dimaksud dalam analisis proksimat adalah semua cairan yang menguap pada pemanasan selama beberapa waktu pada suhu 100-105°C dengan tekanan udara bebas. Peran penting unsur nutrisi air adalah sebagai bahan pelarut, sebagai media transportasi sisa-sisa metabolisme dan sebagai pengatur temperatur tubuh.
Berdasarkan sumbernya air dapat diperoleh ternak melalui pakan yang dikonsumsinya dan dalam bentuk air minum. Jumlah air yang dibutuhkan ternak tergantung pada jenis ternak, temperatur lingkungan, jumlah konsumsi pakan, jenis dan macam pakan, kelembapan udara, dan tingkat produksi ternak (Kartadisastra, H.R. 1997). Kebutuhan cairan bagi tubuh sapi dapat terpenuhi melalui air minum dan pakan hijauan atau rumput. Bahan pakan ini kandungan airnya dapat mencapai 50% - 85%. Pakan dari biji-bijian juga mengandung air walaupun jumlahnya sangat kecil. Maka sapi harus diberi minum sampai dengan 45 liter per hari (Akoso, B.T. 1996).
Air adalah zat makanan yang paling sederhana, namun adalah yang paling sukar penentuannya dalam analisis proksimat. Penentuan kadar air dilakukan dengan pemanasan 105°C secara terus menerus sampai sampel bahan beratnya tidak berubah lagi (konstan). Namun, untuk produk-produk biologik, bila dipanaskan dengan temperatur melebihi 70°C, akan kehilangan zat-zat volatil (zat-zat yang mudah menguap). Sehingga, untuk penentuan kadar yang tepat, pemanasan dengan temperatur yang lebih rendah dan dengan menggunakan desilator yang dapat divakumkan. Tetapi karena alat ini sangat terbatas kapasitasnya, sampel yang dapat dianalisa juga terbatas. Untuk alasan ini, laboratorium tetap menggunakan temperatur tinggi. Pentingnya air dalam menentukan nilai makanan adalah pengaruhnya terhadap komposisi makanan karena sifat pengencer air tersebut, yang dapat dilihat pada Tabel 3.6 (Hartadi, et., al 2005)
Cara mendapatkan kadar air atau persen air yakni sampel bahan pakan ditimbang, diletakkan dalam cawan khusus dan dipanaskan dalam oven 105-110 oC. Pemanasan berjalan hingga sampel tetap bobot atau beratnya. Setelah pemanasan tersebut, sampel makanan disebut sampel bahan kering dan pengurangannya dengan sampel bahan pakan tadi disebut persen air atau kadar air (Tilman,1991).              



Tabel 3.6. Perbandingan kadar zat-zat makanan dan kalori beberapa bahan makanan atas dasar “as fed
Bahan Makanan
Air
(%)
Protein
Asfeed (%)
 BK (%)
Energi termetabolisme
Asfeed (Kcal/kg)
BK
(Kcal/kg)
Padi (dedak padi)
Jagung (biji)
Rumput gajah
Kacang amstadium berbunga
Ketela pohon (umbi)
Ketela rambat (umbi)
86,0
86,0
15,7
30,0

30,0
27,5
11,9
8,9
1,8
4,4

1,0
1,2
13,8
10,4
11,4
14,6

3,2
4,4
1,74
2,69
0,30
0,65

0,79
0,90
2,03
3,13
1,89
2,23

2,64
3,08

Abu.
Abu adalah sisa pembakaran sempurna dari suatu bahan yang dibakar pada suhu 550-600°C selama beberapa waktu sehingga senyawa organiknya akan keluar. Abu terdiri dari campuran berbagai oksida mineral sesuai dengan macam mineral dalam bahan pakan serta mineral tersebut dapat berasal dari senyawa organik misal: fosfor oksida, yang berasal dari protein Komponen abu pada analisis proksimat tidak memberikan nilai makanan yang penting. Jumlah abu dalam bahan makanan hanya penting untuk menentukan perhitungan BETN. Kenyataannya, kombinasi unsur-unsur mineral dalam bahan makanan berasal dari tanaman sangat bervariasi sehingga nilai abu tidak dapat dipakai sebagai indeks untuk menentukan jumlah unsur mineral tertentu atau kombinasi unsur-unsur yang penting. Pada bahan makanan yang berasal dari hewan, kadar abu berguna sebagai indeks untuk kadar kalsium dan fosfor. Dengan diketahuinya kadar abu, masih diperlukan analisis lebih lanjut untuk memisahkan 17 unsur penting yang diperlukan ilmu makanan. (Akoso, B.T. 1996).
Protein Kasar.
Protein terutama terdiri atas asam amino penting yang merupakan kebutuhan dasar untuk semua proses kehidupan. Protein mengandung unsur C, H, O, N. beberapa protein juga mengandung sulfur, fosfat dan zat besi. Di dalam tubuh, protein dipergunakan hewan untuk membangun semua bagian lunak tubuh serta untuk pembentukan berbagai hormon dan enzim (Akoso, B.T. 1996).
Berdasarkan sumbernya, protein ada 2 yaitu golongan protein yang berasal dari tanaman (dikenal dengan istilah protein nabati) dan protein yang berasal dari hewan (dikenal dengan istilah protein hewani). Kedua golongan protein tersebut di dalam alat pencernaan ternak ruminansia (rumen) dihidrolisis oleh bakteri rumen menjadi asam amino yang selanjutnya menglami perubahan menjadi asam organik, amoia dan CO2. Amonia akan digunakan bakteri dalam mensisntesis protein mikrobia yang kemudian dicerna oleh ternak ruminansia di dalam perut yang sebenarnya, yaitu abomasum (Kartadisastra, H.R. 1997). Kebutuhan protein dalam pakan dapat dicukupi dengan memberi leguminasa. Sumber pakan yang mengandung protein adalah leguminosa, daun turi, lamtorogung, biji-bijian kedelai, bungkil dan kacang tanah (Akoso, B.T. 1996).
Semua protein tanaman dan hewan terdiri dari beberapa asam amino yang merupakan satuan penyusun protein tubuh. Dengan alasan inilah, maka kebutuhan tubuh adalah asam amino dan bukan protein. Bila asam amino yang termakan berlebihan, dan melebihi kebutuhan, maka kelebihannya akan di-deaminasi dan sisa non-nitrogennya dapat dijadikan cadangan energi. Grup amino yang ada dibentuk oleh hati menjadi urea, NH2 – CO – NH2, yang dikeluarkan dari tubuh melalui ginjal bersama-sama kemih. Urea adalah suatu produk yang teroksidasi tak sempurna yang masih mengandung energi kira-kira 5,50 Kcal/gram bahan kering. Bila digunakan untuk sumber energi, maka kira-kira 1,25 Kcal dari energi dikeluarkan sebagai urea dari tiap unit protein, meninggalkan 4,25 Kcal/gram bahan kering di dalam tubuh. Dari angka 4,25 ini selanjutnya berkurang menjadi 4,0 Kcal/gram karena tidak sempurnanya diganti protein dalam saluran pencernaan.

Serat Kasar.
Serat kasar menurut analisis proksimat adalah semua senyawa organik yang tidak larut dalam perebusan dengan larutan H2SO4 1,25% dan perebusan dengan larutan NaOH 1,25% selama 30 menit. Dalam perebusan senyawa organik akan larut kecuali serat kasar dengan berbagai campurannya. Yang ternasuk dalam serat kasar adalah hemisellulosa, pentosan, lignin dan cutine (Akoso, B.T. 1996). Sampel yang telah bebas lemak dan telah disaring dipakai untuk mendapatkan serat kasar. Sampel bila ditambah 1,25% larutan asam sulfat dan dipanaskan ± 30 menit, kemudian residu disaring. Endapan yang didapat ditambah 1,25% larutan NaOH dan dipanaskan 30 menit kemudian disaring. Endapan yang didapat dicuci, dikeringkan dan ditimbang, lalu dibakar dan abunya ditimbang. Perbedaan antara berat endapan sebelum dibakar dan berat abu disebut serat kasar (Tillman et al., 1998).
Serat kasar berfungsi sebagai sumber energi bagi mikroorganisme dalam lambung ternak ruminansia dan sebagai bulky (pengenyang) serta meningkatkan gerak peristaltik saluran pencernaan (Lubis, 1992).
Serat kasar terdiri dari selulosa, hemiselulosa dan lignin. Selulosa dan hemisellilosa terdapat dalam struktur daun dan kayu dari semua bagian tanaman dan juga dalm biji tanaman tetentu. Selulosa dan hemiselulosa dapat dihidrolisis oleh mikroorganisme rumen pada ternak ruminansia menjadi VFA (Volatile Fatty Acid), gas metan (CH4), dan karbondioksida (CO2) serta melepaskan energi pada ternak ruminansia. Sedangkan lignin adalah bagian yang mengayu dari tanaman mengandung substansi kompleks yang tidak dapat dicerna (Tillman et al, 1998).



Tabel 3.4. Beberapa contoh kandungan serat kasar dari makanan ternak.
Klas dari Bahan Makanan
Kandungan serat kasar
Asfeed (%)
Bahan Kering (%)
Klas 1,2,3 – Hijauan
Leguminosa:
- Muda
- Masak
- Jerami
(Rumput-rumputan):
- Muda
- Masak
- Jerami
Klas 4 – Makanan Sumber Energi
- Biji-bijian
- Hasil samping / sisa biji-bijian
- Umbi-umbian
- Buah-buahan
- Testes
Klas 5 – Makanan Sumber Protein
- Protein hewani
- Protein ikan
- Protein unggas
- Protein nabati:
  Lemak penuh
  Ekstraksi solven


3,3 – 6,1
9,6 – 16,6
11,6 – 12,0


5,1 – 9,3
9,1 – 11,8
31,7


1,2 – 8,9
4,3 – 23,9
0,6 – 1,5
1,4 – 5,5
0


0,0 – 1,9
0,0 – 13,6
0,0 – 1,5

2,4 – 2,6
3,0 – 25,1


13,2 – 30,2
35,5 – 39,6
39,9 – 40,2


30,8 – 34,5
27,9 – 42,3
35,7


1,4 – 10,4
5,0 – 27,8
2,5 – 6,0
9,2 – 17,9
0


0,0 – 2,3
0,0 – 15,3
0,0 – 1,7

2,8 – 23,9
3,4 – 27,7

Lemak Kasar.
Lemak kasar adalah campuran beberapa senyawa yang larut di dalam pelarut lemak (eter, petroleum, bezen, alkohol 100%). Lemak di dalam tubuh ternak berfungsi sebagai penghasil asam-asam lemak dan energi. Unsur nutrisi ini dicerna menjadi asam-asam lemak dan gliserol yang sebagian diubah menjadi energi, sedang yang lainnya disimpan sebagai lemak tubuh yang akhirnya akan menghasilkan asam amino nonessensial (Kartadisatra, H.R. 1997). Lemak yang berasal dari pakan diubah menjadi pati dan gula, yang seterusnya dioksidasikan menjadi energi dan sebagian disimpan di dalam sel sebagai cadangan. Lemak yang tidak dipakai disimpan di bawah kulit, ponok, sekitar pinggang, selaput usus dan di otot. Biji kapok, kacang tanah dan isi bunga matahari mengandung banyak lemak yaitu sekitar 20% - 40% (Akoso, B.T. 1996).
Istilah ekstrak eter dipakai untuk senyawa yang diperoleh dari ekstraksi bahan makanan dengan menggunakan pelarut lemak, yang biasanya adalah eter. Beberapa pengarang menyebutkan bahwa ekstrak eter adalah lemak atau lipida dan istilah ekstrak eter umum dipakai, yang dapat membingungkan. Yang dimaksud ekstrak eter sekarang adalah zat yang mengandung senyawa yang larut dalam eter, termasuk lipida dan zat yang tidak mengandung asam lemak. Ekstrak eter dalam bahan makanan ternak yang berasal dari hewan biasanya terdiri dari gliserol dan tiga asam lemak, yang biasa disebut lemak. Namun, bahan makanan ternak yang berasal dari tanaman , sterol, lilin dan berbagai produk seperti vitamin A, vitamin D, karotin seringkali menyusun sampai lebih dari 50% lemak makanan. Dalam senyawa non-organik hanya mengandung sedikit energi atau energi yang tak dapat digunakan, kandungan energi sebesar 9 Kcal per gram tidak memenuhi kebutuhan, maka bahan makanan yang mengandung non-gliseride nilai kalorinya kadang-kadang lebih rendah dari itu.
BETN (Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen).
Bahan ekstrak tanpa nitrogen dalam arti umum adalah sekelompok karbohidrat yang kecernaannya tinggi, sedangkan dalam analisis proksimat yang dimaksud ekstrak tanpa nitrogen adalah sekelompok karbohidrat yang mudah larut dalam perebusan dengan larutan H2SO4 1.25 % atau 0.255 N dan perebusan dengan larutan NaOH 1.25 % atau 0.313 N yang berurutan masing-masing 30 menit (Hartadi et al., 1999).
BETN berisi zat-zat mono, tri, di dan polisakarida terutama pati dan kesemuanya larut dalam asam dan basa dalam analisis serat kasar dan mempunyai daya cerna tinggi. Pada serat kasar misalnya kandungan BETN dihitung dari total energi (Akoso, B.T. 1996). Ekstrak tanpa nitrogen mengandung mono-, di-, tri- dan tetra-sakarida ditambah pati dan beberapa bahan zat yang termasuk hemiselulosa. Karena kadar ETN adalah 100% dikurangi dari presentase dari kadar air, abu, protein,  lemak, dan serat kasar, maka nilainya tidak tepat dan dapat berubah. Namun, kesalahan-kesalahan tidak begitu mengkhawatirkan pada analisa-analisa yang telah rutin dikerjakan, terutama karena selulosa dan pati adalah komponen utama bahan makanan dan tidak memisahkan zat-zat ini (Hartadi et al., 1999).


BAB III
MATERI DAN METODE

Materi
Penentuan Kadar Air
Alat. Alat yang digunakan adalah gelas timbang (vochdoos), desikator, tang penjepit, oven pengering (105 - 110° C) dan timbangan analitik.
Bahan. Bahan yang digunakan yaitu Gliricidia maculata, bungkil kedelai, pollard, konsentrat.

Metode
Penentuan Kadar Air
            Gelas timbang yang sudah bersih bersama tutup yang dilepas dikeringkan dalam oven pengering pada suhu 105 - 110° C selama 1 jam. Lalu gelas timbang beserta tutup yang dilepas tersebut didinginkan dalam desikator selama ½ jam, bila sudah dingin ditimbang (X gram). Cuplikan bahan ditimbang seberat ±1 gram (Y gram), dimasukkan ke dalam gelas timbang. Gelas timbang yang berisi cuplikan ditimbang dalam keadaan dingin dan tertutup sampai diperoleh bobot yang tetap (Z gram).
Perhitungan untuk mendapatkan kadar air adalah sebagai berikut.
Kadar air =  x 100 %
X = bobot gelas timbang (vochdoos)
Y=  bobot sampel rumput sudan
Z=  bobot vochdoos + cuplikan setelah oven 105-1100C

Kadar bahan kering (BK) = 100 %- kadar air


Penetapan Kadar Abu
Prinsip kerja dari analisis abu adalah suatu bahan pakan apabila dibakar pada suhu 550-6000C selama beberapa waktu maka semua zat organiknya akan terbakar semua menghasilkan oksida yang menguap yaitu berupa CO2, H2O dan gas-gas lain, sedang yang tertinggal tidak menguap adalah oksida mineral atau yang disebut abu.
Sebelum analisis kadar abu, silika disk yang telah bersih dikeringkan dulu dalam  oven 105-1100 selama 1 jam kemudian didinginkan dalam desikator selama 0,5 jam lalu ditimbang (X gram). Cuplikan tepung rumput sudan ditimbang sebanyak 1 gram (Y gram), lalu dimasukkan dalam silika disk. Silika  disk tadi lalu dimasukkan ke dalam tanur 550-6000C selama 3 jam hingga cuplikan berwarna putih semuanya, setelah 3 jam suhu tanur diturunkan sampai 1200C lalu silika disk dikeluarkan dari tanur dan didinginkan dalam desikator selama 1 jam. Silika disk dan cuplikan ditimbang (Z gram), lalu dihitung kadar abu dengan rumus sebagai berikut.
Kadar abu = x 100 %
X = bobot silika disk
Y = bobot sampel sebelum tanur
Z = bobot sampel + silika disk setelah tanur

Penetapan Kadar Protein Kasar
Prinsip kerja analisis kadar protein kasar (PK) adalah asam sulfat dengan katalisator CuSO4 dan K2SO4 dapat memecah ikatan N organik menjadi (NH4)2SO4 dalam suasana basa akan melepaskan NH3 kemudian dititrasi dengan HCl 0,1 N. Tahap analisis ini ada 3 yaitu destruksi, destilasi dan titrasi.
Destruksi dilakukan untuk melepaskan N organik sampel dengan adanya penambahan H2SO4. Cara kerjanya adalah cuplikan rumput sudan dalam bahan kering ditimbang 1 gram (Z gram), cuplikan dimasukkan dalam labu kjeldahl yang telah bersih dan kering, kemudian ditambah 2 gram K2SO4, 1 gram  CuSO4, 3 butir batu didih dan 25 ml H2SO4 pekat. Destruksi dilakukan dengan alat  destruksi dengan urutan : kipas dihidupkan terlebih dahulu kemudian pemanas dihidupkan mulai dari api kecil kemudian sedikit demi sedikit dibesarkan (skala 4-5). Setelah larutan menghitam (rata), labu diputar-putar hingga jernih. Destruksi dihentikan setelah warna jernih berlangsung selama 1 jam pemanas dimatikan.
Setelah destruksi dilakukan destilasi yang bertujuan melepaskan NH3 yang kemudian ditangkap oleh H3BO3, cara kerjanya yaitu hasil destruksi diencerkan dengan air sampai homogen. Erlenmeyer  650 ml yang berisi 50 ml H3BO3 0,1 N + 100 ml air dan 3 tetes indikator mix. Penampung dan labu kjeldahl dipasang pada alat destilasi kemudian pendingin dialirkan (suhu pendingin maksimum 800F). Ke dalam labu kjeldahl ditambahkan Zn logam 2 butir dan 75 ml NaOH 50 %. Penambahan NaOH  harus melalui dinding. Pemanas dinyalakan dari api kecil, maksimum pada skala 4. destilasi berakhir setelah volume penampang mencapai 200 ml dengan jalan mengambil penampang pemanas dimatikan. Penampang digeser atau diturunkan sedemikian rupa sehingga air panci masuk ke dalam labu penampung. Blanko dibuat dengan menggunakan cuplikan yang berupa H2O dan didestilasi seperti cara diatas. Berturut-turut, pemanas dan pendingin dimatikan. Setelah destilasi, dilakukan titrasi untuk mengetahui jumlah N terdestilasi. Caranya yaitu hasil destilasi dititrasi dengan HCl 0,1 N. Kemudian kadar protein kasar dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut.
Kadar protein kasar =  x 100 %
X = jumlah titrasi sampel (ml)
Y = jumlah titrasi blanko (ml)
N = Normalitas HCl
Z = bobot sampel

Penetapan Kadar Serat Kasar
Prinsip kerja dari analisis serat kasar ini adalah semua senyawa organik kecuali serat kasar (SK) akan larut bila direbus dalam H2SO4 1,25 % (0,255 N) dan NaOH 1,25 % (0,313 N) yang berurutan masing-masing selama 30 menit. Bahan organik yang tertinggal disaring dengan crucible yang telah dilapisi dengan glass wool. Hilangnya bobot setelah dibakar 550-6000C adalah serat kasar. Cara kerjanya sebagai berikut cuplikan rumput sudan sebanyak 1 gram (X gram) dimasukkan dalam beaker glass 600 ml, lalu ditambahkan 200 ml H2SO4 1,25 % (0,255 N) kemudian dipanaskan hingga mendidih selama 30 menit. Waktu 30 menit dihitung saat larutan mulai mendidih. Setelah 30 menit, larutan disaring dengan saringan linen dan dibantu dengan pompa vacum. Hasil saringan (residu) dimasukkan ke dalam beaker glass lalu ditambah 200 ml NaOH 1,25 % (0,313 N) dan dididihkan kembali 30 menit. Larutan disaring lagi dengan menggunakan crucible yang telah dilapisi dengan glass wool dan dibantu dengan pompa vacum. Sisa larutan dicuci dengan 10 ml ethyl alkohol 95 % dan dengan air panas. Hasil saringan termasuk serat gelas (glass wool) dimasukkan pada alat pengering dengan suhu 105-1100C selama 12 jam lalu dididnginkan dalam desikator selama 1 jam. Setelah dingin, crucible beserta isinya ditanur pada suhu 550-600 0C sampai berwarna putih seluruhnya (bebas karbon). Hasil pembakaran didinginkan dalam desikator  selama 1 jam lalu ditimbang (Z gram). Kadar serat kasar dapat diketahui dengan perhitungan sebagai berikut.
Kadar serat kasar (SK) =  x 100 %
X = bobot sampel awal
Y = bobot sampel setelah oven 105-1100 C
Z = bobot sisa pembakaran tanur 550-6000 C



Penetapan Kadar Lemak Kasar  
Prinsip kerja dalam analisis kadar lemak kasar yaitu lemak dapat diekstraksi dengan menggunakan ether atau zat pelarut lemak lain menurut Soxhlet kemudian ether diuapkan dan lemak dapat diketahui bobotnya.
Cara kerjanya yaitu cuplikan bahan ditimbang sekitar 1 gram (X gram) dan dibungkus dengan kertas saring bebas lemak sebanyak 3 bungkus, masing-masing bungkusan cuplikan dimasukkan ke dalam oven pengering 105-1100C selama semalaman, lalu ditimbang bungkusan cuplikan tersebut dalam keadaan masih panas (Y gram), kemudian bungkusan cuplikan dimasukkan ke dalam alat ekstraksi Soxhlet. Labu penampung diisi dengan N-hexana sekitar ½  volume labu penampung, alat ekstraksi juga diisi sekitar ½ volume dengan N-hexana. Lalu labu penampung dan tabung Soxhlet dipasang, pendingin dan penangas dihidupkan. Ekstraksi selama sekitar 16 jam (sampai N-hexana dalam alat ekstraksi berwarna jernih), kemudian pemanas dimatikan, sampel diambil dan dipanaskan dalam oven pengering 105-1100C semalaman, setelah itu masukkan dalam desikator selama satu jam lalu ditimbang (Z gram). Kadar lemak kasar (ekstrak ether) dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut.
Kadar ekstrak ether =x 100 %
X = bobot sampel awal
Y = bobot sampel +kertas saring bebas lemak setelah oven 1050C (belum ekstraksi)
Z = bobot sampel + kertas saring bebas lemak setelah oven 1050C (seteleh ekstraksi)



Penetapan Kadar Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN)
 Kadar BETN ini didapatkan dari rumus perhitungan sebagai berikut:
 ETN = 100 – (% Kadar air + % Kadar abu + % Kadar SK + % Kadar SK + % Kadar EE)




BAB IV
Hasil dan Pembahasan

Hasil
Tabel 1. Hasil Analisis Proksimat Gliricidia maculata
Sampel
Bk (%)
BO (%)
Pk (%)
Sk (%)
LK(%)
ETN (%)
Gliricidia maculata I
23,749
12,4
21,137
14,154
3,98
49,519
Gliricidia maculata II
23,75
11,8
23,78
24,06


Rata-rata
23,75
12,1
22,46
19,11



Pembahasan
Penetapan Kadar Air
Penentuan kadar air merupakan hal yang tersulit dalam analisis proksimat (Tilman, et al., 1998). Penentuan kadar air dalam analisis proksimat, menggunakan bahan yaitu Gliricidia maculata, dalam keadaan kering udara (DW). Bahan tersebut, kemudian dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105-110°C selama 1 jam. Menggunakan suhu 105-110°C karena cairan akan menguappada suhu tersebut. Penentuan bobot bahan kering sangat penting karena bobot bahan kering akan digunakan sebagai standar bobot untuk penentuan kadar fraksi lainnya (Kamal, 1994). Dry Weight (DW) merupakan bahan yang dipanaskan dengan sinar matahari sampai kering dengan suhu 55 °C, sedangkan Dry Matter (DM) adalah bahan pakan yang dipanaskan pada suhu 105-110 °C.
Praktikum pengujian BK dalam Gliricidia maculata didapat data bahwa kadar bahan kering (BK) dalam Gliricidia maculata adalah 23,75%. Menurut FAO (2006), bahwa kadar bahan kering dalam Gliricidia maculata adalah 21,9%. Setelah data praktikum dibandingkan dengan literatur, maka akan didapat perbedaan yang tidak terlalu banyak. Perbedaan kandungan bahan kering dalam praktikum dengan literatur dikarenakan adanya perbedaan tingkat kesegaran dari bahan sampel dan juga oleh cuaca di sekitarnya (Kamal, 1994).
Menurut AAk (1983), perbedaan mutu hijauan dipengaruhi oleh dua faktor yaitu sifat genetik (pembawaan) yang meliputi jenis indukan, spesies, sedangkan faktor yang lain adalah faktor lingkungan yang meliputi keadaan tanah, pengaruh iklim dan perlakuan manusia. Menurut Tillman et.al (1997), kadar air tanaman menurun dengan makin tuanya umur tanaman dan terutama pada saat biji terbentuk dan tanaman menjadi masak.
Penetapan Kadar Abu
Penentuan kadar abu dalam analisis proksimat tidak memberikan nilai makanan yang penting, jumlah abu dalam bahan makanan hanya penting untuk menentukan perhitungan BETN (Hartadi, et-al, 1982). Praktikum pengujian kadar abu menggunakan sampel Gliricidia maculata dalam keadaan kering udara (DW). Bahan tersebut kemudian ditanur pada suhu 550-600°C. Hal ini dikarenakan abu akan dihasilkan apabila bahan dibakar sempurna pada suhu 500-600°C selama 12 jam. Sehingga senyawa organiknya akan terbakar menjadi CO2 dan H2O dan gas lain yang menguap, sedang sisanya yang tidak menguap adalah abu (Kamal, 1994).
Praktikum penentuan kadar abu dengan menggunakan sampel Gliricidia maculata didapat hasil bahwa kadar abu dalam Gliricidia maculata adalah 12,1%. Menurut FAO (2006), kadar abu dalam Gliricidia maculata adalah 9,7%. Data apabila dibandingkan akan terlihat perbedaan yang agak jauh.
Perbedaan kadar abu antara data praktikum dengan literatur disebabkan karena kombinasi unsur-unsur mineral dalam bahan makanan berasal dari tanaman sangat bervariasi sehingga nilai abu tidak dapat dipakai sebagai indeks untuk menentukan jumlah unsur mineral tertentu atau kombinasi unsur-unsur yang penting (Hartadi et-al, 1982). Menurut Tillman (1997), kadar mineral atau abu dalam tanaman adalah sangat variabel tergantung spesies tanaman.


Penetapan Kadar Protein Kasar
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan yakni sampel Gliricidia maculata sebanyak 0,5 gram yang dibungkus kertas saring bebas lemak, kemudian didistruksi untuk melepaskan N organik sampel. Selanjutnya didestilasi untuk melepaskan NH3 yang ditangkap H3BO3 (borax). Setelah kedua proses telah dilakukan kemudian sampel didistalasi untuk mengetahui jumlah N yang terdistalasi.
Setelah dihitung kadar protein kasar Gliricidia maculata diperoleh hasil 14,154% dan 23,79%. Standar Glicirida Gliricidia maculata menurut Hartadi (1993) adalah 44,6%. Sehingga kadar Gliricidia maculata pada perhitungan sangatlah rendah. Menurut Kamal (1999) kadar protein kasar dipengaruhi oleh faktor species, perbedaan umur tanaman, dan bagian tanaman yang dianalisis. Semakin tua umur tanaman maka kadar protein kasarnya semakin berkurang. Kadar protein kasar lebih banyak pada bagian daun daripada bagian batang. Seperti halnya karbohidrat protein kasar adalah nama kumpulan dan menengahkan lebih dari 20 asam amino.
Kebutuhan protein dalam pakan dapat dicukupi dengan memberi leguminase, daun turi, lamtorogung, biji-bijian kedelai, bungkil dan kacang tanah (Akoso, B.T, 1996). Tanaman Gliricidia maculata merupakan suatu sumber hijauan makanan ternak yang banyak terdapat di pedesaan dan dapat digunakan untuk menghemat biaya, tanaman ini belum banyak dimanfaatkan untuk pakan ternak sebagai sumber protein. Dibandingkan dengan tumbuhan hijauan kalindra dan lamtoro, pemberian hijauan gamal pada ternak sangat dianjurkan karena mudah dicerna, disukai oleh ternak dan menambah berat badan. Daun gamal mengandung protein yang cukup tinggi dan tidak membahayakan bila diberikan dalam jumlah banyak dan secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama (Anonim, 1999).
Pada tanaman yang sudah tua protein terlihat pada fraksi yang menyebabkan protein tersebut tidak dapat dimanfaatkan. Hal ini disebabkan karena Gliricidia maculata telah mengalami proses pelayuan maka kandungan menjadi berkurang daripada yang masih segar. Degradasi protein tergantung pada asal mula protein struktur bahan pakan (Soes, 1994).
Penetapan Kadar Serat Kasar
Penetapan kadar serat kasar dimulai dengan menimbang cuplikan bahan Gliricidia maculata (gamal) sebanyak 0,5 gram kemudian dimasukkan ke dalam beaker glass 600 ml, ditambahkan 200 ml H2SO4 1,25% kemudian dipanaskan sampai mendidih (30 menit). Penambahan H2SO4 1,25% dimaksudkan agar karbohodrat dan protein terhidrolisis, selain itu juga bertujuan untuk disesuaikan dengan proses pencernaan di dalam tubuh ternak monogastrik yaitu pencernaan secara asam yang terjadi di lambung. Kemudian hasil perebusan disaring menggunakan kain linen dengan menggunakan corong yang dibantu menggunakan pompa vacum yang sebelumnya dinyalakan pada saat kain linen dan corong disiapakn, hal ini dimakasudkan agar pori-pori pada kain linen terbuka sehingga memudahkan dalam penyaringan. Ditambahkan 200 ml NaOH 1,25% yang dimaksudkan untuk penyabunan lemak serta untuk menyesuaikan proses penscernaan dalam tubuh ternak (usus). Setelah direbus dan disaring kembali dengan menggunakan crucibel ditambah kan ethyl alkohol 95% dimaksudkan untuk menghidrolisis lemak yang kemungkinan masih terkandung dalam serat kasar kemudian dioven, didesikator dan terakhir dapat ditentukan skadar serat kasar dengan menggunakan persamaan.
Hasil yang didapat pada praktikum, serat kasar dalam Gliricidia maculata adalah 21,137% dan 24,04%. Menurut Brewbaker (1996) serat kasar Gliricidia maculata adalah 13 sampai 30%. Sehingga kadar serat kasar dalam praktikum ini masih normal atau sesuai dengan literatur. Perbedaan kadar serat kasar dipengaruhi oleh komposisi kimia Gliricidia maculata bervariasi sesuai dengan umur, bagian tanaman, musim dan tipe jenis. Semakin dewasa tanaman maka tingkat protein kasar semakin berkurang dan serat kasarnya semakin bertambah (Brewbaker. et. al, 1996). Kondisi serat kasar yang diperoleh dalam praktikum ini adalah dalam keadaan berat kering karena kadar airnya hilang setelah pengovenan 1050C.
            Serat kasar mengandung selulosa dan beberapa hemislulosa dan polisakarida lain yang berfungsi sebagai bahan pelindung tanaman. Serat kasar juga mengandung lignin. Sudah nyata bahwa kadar serat kasar hijauan adalah lebih tinggi dari biji dan kulit biji yang dipisahkan pada saat penggilingan. Kadar serat kasar tanaman adalah terendah bila tanaman masih sangat muda dan cenderung naik kadar serat kasarnya apabila tanaman makin tua. Tanaman tua mengandung serta kasar lebih tinggi bila dibanding tanaman yang lebih muda. Pada umumnya, kadar serat kasar tanamnan yang makin tinggi, pencernaan makin lama dan nilai produktifnya makin rendah (Hartadi et al., 1999).
            Berubahnya umur tanaman menyebabkan berubahnya nilai dan komposisi nutrien dari tanaman tersebut. Semakin tua umur tanaman akan mengakibatkan turunnya kadar protein dan karbohidrat struktural akan naik bersamaan dengan kadar lignin tanaman tertinggi setelah dewasa (Kamal, 1999).
Penetapan Kadar Lemak Kasar
Sebanyak 0,5 gram sampel ditimbang dalam keadaan masih panas setelah dioven 105-1100c dimaksudkan untuk mengurangi kemungkinan kesalahan dalam pnimbangan karena sifat lemak yang mudah menguap. Kemudian dimaksukkan dalam sokhlet, diekstraksi selama 12 jam dengan ditambahkan protelium benzena untuk menghidrolisis lemak. Selanjutnya dioven  105-1100c, ditimbang. Lemak kasar adalah campuran beberapa senyawa yang larut di dalam pelarut lemak (eter, petroleum, bezen, alkohol 100%). Lemak di dalam tubuh ternak berfungsi sebagai penghasil asam-asam lemak dan energi. Unsur nutrisi ini dicerna menjadi asam-asam lemak dan gliserol yang sebagian diubah menjadi energi, sedang yang lainnya disimpan sebagai lemak tubuh yang akhirnya akan menghasilkan asam amino nonessensial (Kartadisatra, H.R. 1997).
Hasil lemak kasar yang diperoleh setelah perhitungan adalah 3,98%. Menurut Brewbaker (1996) lemak kasar dalam Gliricidia maculata adalah 1,1%. Sehingga kadar lemak kasar yang diperoleh dalam praktikum ini sangatlah rendah.
Bahan Ekstrak Tanpa  Nitrogen (BETN)
Dalam praktikum ini didapat ETN rata-rata adalah 81,166 % Menurur Hartadi et al., (1999) bahwa Ekstrak tanpa nitrogen mengandung mono-, di-, tri- dan tetra-sakarida ditambah pati dan beberapa bahan zat yang termasuk hemiselulosa. Karena kadar ETN adalah 100% dikurangi dari presentase dari kadar air, abu, protein,  lemak, dan serat kasar, maka nilainya tidak tepat dan dapat berubah. Namun, kesalahan-kesalahan tidak begitu mengkhawatirkan pada analisa-analisa yang telah rutin dikerjakan, terutama karena selulosa dan pati adalah komponen utama bahan makanan dan tidak memisahkan zat-zat ini.


Kesimpulan

            Dari hasil percobaan yang dilakukan dengan analisis proksimat diperoleh kadar fraksi dalam sampel Gliricidia maculata (dalam DM/kering mutlak). Sampel Gliricidia maculata kadar air %, abu %, protein kasar % , serat kasar  %, lemak kasar  %, ETN  %. Dengan mengetahui kadar kelima fraksi dari sampel jagung giling maka dapat disimpulkan bahwa Gliricidia maculata termasuk dalam kelas 5,  sebagai bahan pakan sumber protein. Karena protein kasar yang lebih dari 20% dan serat kasar yang juga kurang dari 18%.
            Faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan kandungan nutrien dan fraksi yang terdapat dalam suatu bahan pakan meliputi spesies tanaman, umur tanaman, perbedaan bagian yang digunakan sebagai sampel dan pemupukan serta kesuburan tanah. Selain itu,  faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan kandungan abu adalah umur tanaman, komposisi tanaman, persediaan air dan pemupukan. Perbedaan kandungan protein kasar dipengaruhi oleh jenis tanaman, bagian tanaman, lama penyimpanan dan cara penyimpanan. Perbedaan kandungan serat kasar dipengaruhi dengan meningkatnya umur pemotongan akan terjadi penurunan materi yang mudah tercerna dan meningkatnya materi yang sulit tercerna sehingga akan terjadi penurunan kandungan nutrient tanaman dengan bertambahnya umur tanaman yang disebabkan karena kadar serat tanaman dan diikuti proses ligninfikasi. Dan  perbedaan kandungan nutrien juga dipengaruhi oleh proses analisis kandungan nutrien pakan tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

AAK. 1983. Hijauan Makanan Ternak Potong, Kerja, dan Perah, Yogyakarta, Kanisius.
Akoso, BT, 1996. Kesehatan Sapi, Panduan bagi Petugas Teknis, Mahasiswa, Penyuluh dan Peternak, Jakarta, Kanisius.
Alamsyah. Rizal, Ir, MSc. 2005. Pengolahan Pakan Ayam dan Ikan secara Mandiri. Jakarta. Penebar Swadaya.
Ali Agus. 2007. Membuat Pakan Ternak Secara Mandiri. Yogyakarta. PT. Cicra Aji Perama.
Brewbaker, J., P.cheeke, N. Glover, C. Hughses, D. Kass, M. Kass, B. Scibert, J.    stewart, S. Sumberg and F. Wiersum.1996.Glicirida : Produksi dan Manfaat (diterjemahkan oleh Emmanuel Keffi). Asia Pasific Agroforesty Network Secretariat, Bogor.
Hari Hartadi, S.reksohadiprojo, AD.Tillman. 1997.1999. Komposisi Pakan untuk Indonesia. Cetakan keempat. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Kamal,Muhammad.1991,1998,1999. Nutrisi Ternak Dasar. Laboratorium Makanan Ternak Jurusan nutrisi dan Makanan ternak Fakultas Peteranakan UGM.Yogyakarta
Kartadisastra. H.R. 1997. Penyediaan dan Pengelolaan Pakan Ternak Ruminansia. Yogyakarta. Kanisius.
Lubis, D.A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. PT Pembangunan, Jakarta.
M. Rasyaf, DR, Ir. 1994. Makanan Ayam Broiler. Yogyakarta. Kanisius.
R. Anggorodi, Prof. Dr, 1985. Kemajuan Mutakhir Dalam Ilmu Makanan Ternak Unggas. Jakarta UI Press.
Soedomo Reksohadiprojo,Drh,M.Sc. 1985. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropik. BPRE. Yogyakarta
Tillman.D.A, hari hartadi, Soedomo Reksohadiprojo, Soeharto Prawirokusumo dan Soekanto Lebdosoekojo. 1991,1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.
www.FAO.org


LAMPIRAN
Lampiran 1. Perhitungan hasil analisis proksimat
Sampel : Glicirida maculata
Kelompok VII

1.  Kadar Air 
Kadar Air =
Keterangan :        x = bobot vochdoos
                   y = bobot cuplikan bahan
                   z = bobot vochdoos + cuplikan setelah dioven
                         (105 - 110°C)
Kadar bahan kering = 100% - kadar air

Gliricidia maculata (Kelompok VII)
Bobot vochdoos                                               : 14,874     g
Bobot sample                                                   :  1,0058    g
Bobot vochdoos + sample                              : 15,8798   g
Bobot vochdoos + sample (oven 1050C)     : 15,780     g

Kadar Air         = 15,8798 – 15,780 x 100%
                                    1,0058
                         =    9,92 %
      
BK total atau DM total       =        100% - 9,92 %
                                             =        90,078 %

Gliricidia maculata (Kelompok XII)
Bobot vochdoos                                               : 14,2160   g
Bobot sample                                                   :  1,0020    g
Bobot vochdoos + sample                              : 15,2180   g
Bobot vochdoos + sample (oven 1050C)     : 15,1180   g

Kadar Air         = 15,2180 – 15,1180  x 100%
                                           1,0020            
                         =    9,98 %
      
BK total atau DM total       =        100% - 9,98 %
                                             =        90,02 %
2. Kadar Abu
Kadar Abu =
Keterangan :        x = bobot silica disk kosong
                   y = bobot sampel sebelum ditanur
                   z = bobot sampel + silica disk setelah ditanur

Gliricidia maculata (Kelompok VII)
Bobot  silica disk                                        :  14,8740 gr
Bobot sample                                             :  1,0058  gr
Bobot silica disk + sample                        :  15,8798gr
Bobot silica disk + sample (tanur)           :  14,976 gr

Kadar Abu   = 14,976 – 14,8740 x 100 %
                                 0,906
                   = 11,2 %
Gliricidia maculata (Kelompok XII)
Bobot  silica disk                                        :  14,2160 gr
Bobot sample                                             :  1,0020  gr
Bobot silica disk + sample                        :  15,2180gr
Bobot silica disk + sample (tanur)           :  14,3222 gr

Kadar Abu   = 14,3222 – 14,2160 x 100 %
                                 0,902
                      =   11,7 %
3Kadar Serat Kasar
Kadar serat kasar =
Keterangan :        x = bobot sampel setelah dioven 105°C
                   y = bobot sampel awal
                   z = bobot sisa pembakaran 550 - 600°C

Gliricidia maculata (Kelompok VII)
Bobot sample                                                               : 1,0020 gr
Bobot sample+crucible+glasswool(oven1050C)    : 21,3504 gr
Bobot sample+crucible+glasswool(tanur5500C)    : 21,1596 gr

Kadar Serat Kasar          = 21,3504 – 21,1596 x 100 %
                                           1,0058
                                           = 18,96 %
Dalam DM                        =
                               =
                               = 21,048 %    

Gliricidia maculata (Kelompok XII)
Bobot sample                                                               : 1,0013 gr
Bobot sample+crucible+glasswool(oven1050C)    : 22,4032 gr
Bobot sample+crucible+glasswool(tanur5500C)    : 22,1863 gr

Kadar Serat Kasar           = 22,4032 – 22,1863 x 100 %
                                                       1,0020
                                           = 21,64 %
Dalam DM                        =
                               =
                               = 24,04 %      

4. Kadar Protein Kasar
Kadar protein kasar =
Keterangan :        x = jumlah titrasi sampel (ml)
                   y = jumlah titrasi blanko (ml)
                   N = normalitas HCl

Gliricidia maculata (Kelompok VII)
Bobot sample                                                       : 0,5008 gr
Volume titrasi blanko                                          : 0,3 gr
Volume titrasi sample                                         : 7,6gr

Kadar protein kasar   =
                                      = 12,75 %
Dalam DM                   =
                                      =
                                      = 14,154%

Gliricidia maculata (Kelompok XII)
Bobot sample                                                       : 0,5067 gr
Volume titrasi blanko                                          : 0,3 gr
Volume titrasi sample                                         : 12,7gr

Kadar protein kasar   =
                                      = 21,41 %
Dalam DM                   =
                                      =
                                      = 23,78%

5. Kadar Lemak Kasar
Kadar lemak kasar =
Keterangan :   x   =  bobot sampel awal
                     y   =   bobot sampel + kertas saring bebas lemak setelah oven 105°C (sebelum diekstraksi).
                     z   =   bobot sampel + kertas saring bebas lemak setelah oven 105°C (setelah diekstraksi)

Gliricidia maculata (Kelompok VII)
I.   Bobot kertas saring                                            : 0,4726 gr
     Berat sample                                                       : 1,0086 gr
     Bobot kertas saring+sample                            : 1,4812 gr
     Bobot kertas saring+sample (oven 1050C)    : 1,3328 gr
     sebelum ekstraksi
     Bobot kertas saring+sample (oven 1050C)    : 1,2947 gr
     setelah ekstraksi
     Kadar lemak kasar 1      =
                                                = 3,77%
II.  Bobot kertas saring                                            : 0,4788 gr
     Berat sample                                                       : 1,0002 gr
     Bobot kertas saring+sample                            : 1,4790 gr
     Bobot kertas saring+sample (oven 1050C)    : 1,3286 gr
     sebelum ekstraksi
     Bobot kertas saring+sample (oven 1050C)    : 1,2952 gr
     setelah ekstraksi
     Kadar lemak kasar 2      =
                                                = 3,339 %
III. Bobot kertas saring                                            : 0,3659 gr
     Berat sample                                                       : 1,0028 gr
     Bobot kertas saring+sample                            : 1,3687 gr
     Bobot kertas saring+sample (oven 1050C)    : 1,2052 gr
     sebelum ekstraksi
     Bobot kertas saring+sample (oven 1050C)    : 1,2486 gr
     setelah ekstraksi
     Kadar ekstrak eter                                              : 3,649 %

Kadar lemak kasar 3           =
                                                = 3,649 %
Kadar Ekstrak eter rata-rata      =
                                                       = 3,586%
Dalam DM       =
                          =
                          = 3,98 %

6. Kadar ETN
Kadar ETN (DM) =100% - (% abu + % protein kasar + % lemak kasar + % serat kasar)
Gliricidia maculata (Kelompok VII)
ETN           = 100% - (11,2 % + 14,154 % + 3,980 % + 21,048 %)
                               = 49,618 %

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar